Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch
INDONESIA RAWAN BENCANA .... AYO SIAGA .....

Kamis, 04 Februari 2010

PERAWATAN KELUARGA ( PK )

1. Latar Belakang
Latar belakang adanya perawatan keluarga ini diawali dengan adanya kirsus keperawatan tahun 1950 yang diadakan oleh Rumah Sakit PMI Bogor yang kemudian kursus tersebut berkembang sampai kepada kursus Perawatan Keluarga. Pengertian Perawatan keluarga adalah perawatan yang dilakukan oleh anggota keluarga itu sendiri dengan menggunakan alat-alat yang ada di lingkungan keluarga itu dan sederhana tetapi hasilnya memuaskan.
2. Dasar Perawatan Keluarga
a. Mengapa Diperlukan PK?
  1. Pada umumnya mereka yang sakit senang bila ia berada di rumah di tangah keluarga daripada berbaring di RS dan dirawat oleh orang yang belum dikenal.
  2. Demi untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya transportasi.
  3. Dirawat oleh orang lain di sebuah kamar dapat mempengaruhi keadaan si sakit sehingga mempengaruhi penyembuhannya.
  4. Untuk meningkatkan kemandirian orang sakit dan keluargnya secara optimal.
b. Siapa Yang Melakukan PK?
  1. Pada dasarnya siapa saja dapat melakukan tugas PK asal sebelumnya diberi pengetahuan (berupa pendidikan PK) dan dilatih secukupnya.
  2. Sejak tahun 1950 PMI telah menyelenggarakan pendidikan latihan PK.
c. Sifat pribadi yang tepat untuk menerima pendidikan PK adalah:
  1. Mempunyai sifat kasih sayang yang tulus.
  2. Menaruh minat dan memiliki rasa kemanusiaan yang dalam.
  3. Ingin belajar dan berbakat dalam bidang perawatan.
d. Sikap dan Perilaku yang perlu dimiliki oleh pelaku PK
  1. Berperikemanusiaan yang jelas tampak dan sikap kesediaan untuk menolong yang akan memberi kesan tetang kepribadiannya.
  2. Bertanggungjawab, sifat ini harus tampak dari segala tindakan pelaku pk yang senantiasa berpedoman pada apa yang ia telah pelajari antara lain tidak akan melakukan tindakan yang merugikan si sakit maupun angggota keluraga yang lain.
  3. Selalu mengutamakan kebutuhan si sakit.
  4. Selalu bersikap terbuka terhadap tindakan yang akan dilakukan terhadap si sakit sera menerangkan/mendidik kelurga lain misalnya bagaimana hidup sehat
d. Prinsip kerja seorang pelaku PK
  1. Sikap yang baik seorang pelaku PK penting untuk memberi kesan baik tentang kepribadian.
  2. Menunjukkan memampuan kerja denga tenang, cepat dan tanpa ragu-ragu.
  3. Mempunyai sikap yang ramah, selalu tersenyum, bersedia untuk mendengar dan mampu untuk menenangkan si sakit.
  4. Berpirlah sebelum bertindak/bekerja.
  5. Jagalah kebersihan lingkungan dan ruangan si sakit, tetapi perlu juga memperhatikan diri sendiri.
  6. Catat selalu hasil pengamatan dan perawatan yang telah diberi secara pendek, lengkap dan jelas.
  7. Usahakan agar tidak menambah penderitaan si sakit.
  8. Jangan bertindak menyimpang dari peraturan dan perintah dokter/petugas kesehatan dan jangan keliru memberi obat.
  9. Jika dianggap perlu untuk merujuk si sakit ke puskesmas/RS diperlukan persiapan antara lain pakaian bersih dan alat toilet si sakit dan kemungkinan harus dihubungi petugas yang mengurus angkutan/ambulans.
  10. Bila ada sesuatu yang perlu dirahasiakan janganlah disampaikan langsung si sakit.
e. Peralatan yang diperlukan
  1. Perawatan yang dilakukan di rumah membutuhkan peralatan. Kita tidak boleh memaksakan untuk membeli peralatan seperti yang ada di RS. Dengan peralatan yang ada dan sederhana dapatlah kita menolong si sakit dengan cukup memuaskan.
  2. Perlengkapan kamar tidur.
  3. Tempat penyimpanan obat-obatan.
f. Penerapan
  1. Sebagai individu : Perlu mempersiapkan diri agar mampu dan mau melakukan PK untuk siapa saja yang membutuhkan.
  2. Sebagai anggota masyarakat : Menjelaskan kepada anggota masyarakat pentingnya PK. Dapat juga mengordinir disediakannya peralatan PK agar masyarakat sekitar dapat menggunakan secara bersama.
  3. Di lingkungan organisasi PMI : Turut berpartisipasi pada Tim PK PMI dalam kegiatan pelayanan sosialnya PMI misalnya untuk panti jompo.
  4. Pada saat bencana : Turut berpartisipasi pada Tim PK PMI dalam kegiatan di tempat penampungan sementara/pengungsian.
3. Kesehatan Dasar Keluarga
a. Kebersihan Diri
  1. Kebersihan diri merupakan factor penting dalam usaha pemeliharaan kesehatan, agar kita selalu dapat hidup sehat.
  2. Menjaga kebersihan diri berarti juga menjaga kesehatan umum.
  3. Cara menjaga kebersihan diri :
  • Mandi setiap hari secara teratur
  • Tangan harus dicuci sebelum menyiapkan makanan dan minuman, sebelum makan, sesudah buang air besar atau buang air kecil.
  • Kuku digunting pendek dan bersih.
  • Kaki perlu dirawat dengan baik dan teratur.
  • Sikat gigi setiap habis makan.
  • Pakaian perlu diganti setiap habis mandi dengan pakaian yang sudah dicuci bersih dengan sabun, dijemur dan disetrika.
b. Kebersihan lingkungan
  1. Kebersihan lingkungan adalah suatu usaha menjaga lingkungan bersih, dan sehat sehingga dapat mencegah penularan penyakit
  2. Penularan penyakit terjadi bila ada hubungan anatara 3 mata rantai, yaitu: sumber penyakit, perantara penyakit dan orang yang lemah/peka terhadap serangan penyakit.
  3. Usaha meningkatkan kebersihan lingkungan dapat dilakukan bersama masyarakat dengan mengusahakan untuk memutuskan hubungan mata rantai tersebut agar tidak akan terjadi penularan.
  4. Kebersihan lingkungan dapat dicapai dengan:
  • Rumah harus sehat dan terpelihara.
  • Hewan peliharaan tidak berkeliaran di dalam rumah atau ditempat anak bermain terutama hewan yang berkutu
  • Sediakan tempat sampah yang tertutup dan buang sampah ditempatnya
  • Jaga kebersihan sumber air, MCK dan lingkungannya
  • Hindari genangan air/air hujan di sekitar rumah
  • Air limbah usahakan lancer alirannya.
4. Pelaksanaan Perawatan
Merawat orang sakit di rumah
a. Mencuci Tangan
1. Suatu keharusan bagi setiap perawat termasuk pelaku PK yang dilakukan:
  • Sebelum dan sesudah merawat orang sakit
  • Sebelum menyiapkan makanan dan minuman
  • Sesudah memegang barang-barang kotor dan memegang binatang
  • Sesudah buang air besar (b.a.b) atau buang air kecil (b.a.k)
2. Tujuan
  • Membersihkan tangan dari segala kotoran
  • Menjaga kesehatan pelaku
  • Mencegah penularan penyakit
  • Melatih suatu kebiasaan yang baik
b. Memakai Celemek
  1. Celemek adalah bentuk pakaian untuk menutup pakaian pelaku PK waktu menolong merawat si sakit, tanpa mengganggu gerak si pelaku.
  2. Tujuan:
  • Melindungi pakaian pelaku dari kotoran
  • Mencegah penularan penyakit
4. Mengukur Auhu
a. Mengukur suhu
Alat untuk mengukur suhu disebut termometer. Menurut skalanya ada 2 macam, yaitu: termometer celcius (lazim dipakai di Indonesia) dan termometer Fahrenheit (lazim dipakai di Amerika)
1. Bagian dari termometer
  • Tabung gas panjang, berbentuk persegi gepeng bundar atau persegi
  • Pipa gelas tempat turun naik air raksa
  • Skala yang menunjukkan derajat suhu
  • Reservoir tempat air raksa
2. Tujuan
  • Mengetahui suhu badan si sakit
  • Mengetahui adanya kelainan pada tubuh
  • Mengetahui perkembangan penyakit
  • Sebagai salah satu penyokong dalam membantu dokter dalam menentukan diagnosa
3. Tempat dan cara pengukuran suhu
3.1. Ketiak
  • Cuci tangan
  • Siapkan termometer
  • Beritahu si sakit
  • Keringkan ketiak dengan handuk/waslap
  • Tempatkan pangkal termometer di tengah ketiak di minta si sakit menjepitnya 10-15 menit, tangan yang lain membantu menekan bagian lengan yang menjepit termometer
  • Setelah 10-15 menit termometer dikeluarkan, dibaca sampai di mana naiknya air raksa dan dicatat.
  • Termometer dibersihkan, lalu disimpan
  • Cuci tangan
3.2. Dubur
  • Pengukuran suhu di dubur dilakukan:
- Pada bayi, anak, orang sakit parah
- Pada keadaan tertentu, misalnya:patah lengan,bagian ketiak di balut
- Atas petunjuk dokter
  • Pengukuran suhu di dibibir tidak boleh dilakukan pada:
- Orang sakit yang luka pada daerah dubur
- Orang sakit yang berpenyakit kelamin
  • Pelaksanaan :
  1. Cuci tangan
  2. Siapkan termometer dan minyak kelapa/vaselin
  3. Beritahu si sakit
  4. Miringkan si sakit,bebaskan pakaian yang menutupi bokong
  5. Kaki yang sebelah atas ditekuk kearah perut
  6. Oleskan pangkal termometer dengan minyak kela[a/vaselin untuk memudahkan memasukkan ke dalam anus. Hati-hati bila ada wasir
  7. Pisahkan bokong si sakit agar dubur terlihat, lalu pangkal termometer di masukkan
  8. Pegang termometer selama berada dalam anus selama 3 menit
  9. Keluarka termometer, baca dan catat di buku catatan harian
  10. Termometer dibersihkan lalu disimpan
  11. Cuci tangan
3.3. Mulut
  • Dilakukan pada orang sakit bila pada kedua tempat di atas tidak memungkinkan pemasangan thermometer.
  • Pengukuran suhu di mulut tidak boleh dilakukan pada:
- Orang sakit yang tidak sadar atau gelisah
- Orang yang berpenyakit milit,batuk pilek atau sesak nafas
- Bayi/anak yang masih kecil
  • Pelaksanaan :
  1. Cuci tangan
  2. Siapkan termometer
  3. Beritahu si sakit
  4. Si sakit diminta untuk membuka mulut
  5. Letakkan pangkal termometer di bawah lidah agak ke samping, di minta si sakit untuk menutup mulut dan bernafas melalui hidung
  6. Setelah 3 menit keluarkan termometer, baca dan catat di buku catatan harian
  7. Termometer dibersihkan lalu disimpan
  8. Cuci tangan
5. Menghitung Denyut Nadi
Menghitung denyut nadi adalah sama penting dengan mengukur suhu. Denyut nadi menjadi lebih cepat bila berada dalam ketakutan, gelisah, demam dan sesudah gerak badan
a. Denyut nadi dapat diraba pada :
  1. Leher
  2. Bagian muka telinga
  3. Dekat ujung tulang selangkang
  4. Sisi dalam dari lengan atas
  5. Lipatan paha
  6. Pergelangan tangan
  7. Denyut bayi sampai umur 1 tahun dapat diraba di ubun-ubun
b. Tujuan mengukur denyut nadi
  1. Mengetahui keadaan umum si sakit
  2. Mengetahui keadaan jantung
  3. Mengikuti perkembangan jalannya penyakit
  4. Membantu menentukan diagnosa
c. Jumlah denyut nadi rata-rata permenit
  1. Bayi baru lahir : + 130 - 160
  2. Bayi : + 110 - 130
  3. Anak umur 4-7 tahun : + 80 - 120
  4. Anak umur lebih 7 tahun : + 80 - 90
  5. Pria dewasa : + 60 - 80
  6. Wanita lebih banyak antara 10-15 denyutan.
Umumnya kecepatan denyut nadi meningkat bila suhu badan meningkat. Tiap kenaikan suhu 1 derajat C, denyut nadi akan bertambah 10-15 denyutan.
d. Pelaksanaan
  1. Cuci tangan
  2. Beritahu si sakit
  3. Si sakit duduk atau berbaring, lengan dikendurkan dengan ibu jari di sebelah atas. Cari nadinya dengan 3 jari si pelaku dipergelangan tangan si sakit kea rah ibu jari si sakit diantara urat-urat
  4. Hitung denyut nadi selama ½ menit, hasilnya dikalikan 2 dan dicatat dalam buku catatan harian
6. Menghitung Pernafasan
Satu kali pernafasan adalah 1 kali menarik nafas dan 1 kali mengeluarkan nafas
a. Tujuan menghitung pernafasan :
  1. Membantu menentukan diagnosa
  2. Mengetahui keadaan umum si sakit
b. Pelaksanaan
  1. Dihitung segera setelah menghitung denyut nadi. Jangan diberitahu si sakit akan dihitung pernafasannya dengan pergelangan si sakit tetap dipegang seolah-olah masih menghitung denyut nadi
  2. Diperhatikan apakah kedua sisi dada bergerak seirama, apakah terlihat adanya kesukaran dalam bernafas
  3. Hitung pernafasan selama ½ menit dan hasilnya dikali 2, catat dalam buku catatan harian
c. Jumlah pernafasan permenit
  1. Bayi baru lahir : 30-60
  2. Anak umur 1 tahun : 25-30
  3. Anak umur 2 tahun : 20-25
  4. Anak umur 15 tahun : 18 -20
  5. Pria dewasa : 16-18
  6. Wanita dewasa : 18-20
d . Perbandingan jumlah pernafasan dengan denyut nadi adalah 1: 4
7. Penataan Tempat Tidur Orang Sakit
a. Maksud dan tujuan
  1. Mempercepat penyembuhan
  2. Mencegah penyakit bertambah parah
  3. Memperkecil bahaya penularan
b. Syarat tempat tidur si sakit
  1. Panjang tempat tidur harus sepadan dengan panjang badan si sakit
  2. Ditempatkan pada bagian kamar yang tak banyak kena hembusan angin
  3. Terhindar dari cahaya yang menyilaukan, bau yang merangsang dan keributan
  4. Barang tenun (seprei,sarung bantal dsab) hendaknya diganti paling sedikit 2 kali seminggu, kecuali bila basah atau kotor maka harus segera diganti.
c. Peralatan
  1. Tempat tidur + kasur + bantal
  2. Kain seprei + sarung bantal
  3. Kain perlak + kain alas perlak
  4. Selimut
8. Perawatan Sehari-hari di Rumah
1. Menolong si sakit B.A.B / B.A.K di atas tempat tidur
Di Indonesia biasanya orang sakit selama masih dapat berjalan akan berusaha untuk pergi ke kamar kecil untuk B.A.B / B.A.K. sebenarnya hal ini tidak dibenarkan karena si sakit membuang tenaga yang ia perlukan untuk melawan penyakitnya. Perlu diketahui, bahwa antara orang sakit pria dan wanita cara menolongnya berbeda.
  • Wanita : alat kelamin bagian luar dan dalam dihubungkan oleh sebuah saluran yang sangat pendek jaraknya, sehingga sangat mudah terkena infeksi. Untuk b.a.b dan b.a.k menggunakan sebuah tempat yang disebut pasu najis.
  • Pria : untuk b.a.b dan b.a.k dapat hanya menggunakan sebuah labuh kemih, semacam botol.
a. Peralatan
  1. Pasu najis beserta tutupnya
  2. Labu kemih untuk pria
  3. Bamboo/botol berisi air
  4. Kertas toilet
  5. Alas bokong (perlak beserta alasnya)
  6. Bel
  7. Bangku kecil untuk pasu najis
  8. Handuk, sabun, bedak
  9. Air untuk mencuci bokong
2. Menyeka / memandikan si sakit di tempat tidur
a. Tujuan
  1. Memberikan perasaan enak dan segar kepada si sakit
  2. Membersihkan kotoran yang melekat pada tubuhnya
  3. Membantu memperlancar peredaran darah
  4. Melatih otot-otot secara aktif dan pasif
  5. Mencegah terjadinya lecet
b. Peralatan
  1. 2 baskom (untuk menyabun + membilas)
  2. Air hangat dalam cerek dan air dingin dalam ember + gayung
  3. 2 waslap + 2 handuk besar
  4. 1 ember yang agak besar untuk menampung air
  5. Sabun mandi dalam tempatnya, talk dan kamfer spiritus,alat bersolek, alat cukur dan sisir
  6. Pakaian si sakit yang bersih
  7. Tempat/keranjang untuk pakaian kotor
  8. Bila perlu disediakan lbu kemih dan pasu najis, botol berisi air untuk cebok
3. Mencuci rambut si sakit di tempat tidur
a. Tujuan
  1. Memberikan perasaan segar dan senang kepada si sakit
  2. Menghilangkan kotoran yang melekat pada kepala si sakit
  3. Agar rambut tetap bersih, rapi dan terpelihara
b. Peralatan :
  1. Baki yang berisi sisir, 1 handuk, 1 waslap, shampo, alas(handuk + perlak
  2. Talak plastik yang dapat diganti dengan pelepah pisang/sebuah perlak yang digulung
  3. Ember berisi air hangat kuku, gayung bermulut lancip/kobokan
  4. Ember kosong
  5. Kain pel
  6. Cadangan air panas dalam cerek dan air dingin dalam ember
  7. Alat pengering rambut atau kipas
9 . Merubah Posisi Tidur Orang Sakit
Seorang pelaku PK harus pandai menolong si sakit duduk , berbalik, merubah posisi tidurnya, mengangkatnya, menolong turun / naik tempat tidur dengan cara teratur.
Merubah sikap tidur si sakit adalah hal yang sangat penting, karena dapat menghindari :
  1. Bahaya lecet pada tubuh
  2. Ketegangan pada sendi-sendi
  3. Bahaya timbulnya cacat
  4. Memperbaiki peredaran darah
a. Meminggirkan atau menengahkan si sakit
Meminggirkan adalah menggeser si sakit dari tengah ke pinggir tempat tidur, sedangkan menengahkan adalah menggeser si sakit dari pinggir ke tengah tempat tidur.
b. Memiringkan si sakit
Memiringkan adalah membentuk posisi si sakit menjadiposisi miring.
Untuk memiringkan si sakit ke kanan, maka dilakukan dari arah saebaliknya/berlawanan. Begitu juga jika memiringkan posisi si sakit dari arah kiri.
c. Memindahkan si sakit
Bila sakit seorang dewasa yang gemuk, maka untuk mengangkatnya sebaiknya dilakukan berdua atau bertiga. Jangan coba melakukan sendiri, karena akibatnya mungkin si sakit merasa lebih sakit atau mungkn terjatuh.
d. Menolong si sakit turun dari tempat tidur, berjalan ke kursi dan kembali ke tempat tidur. Bila si sakit yang telah berbaring lama di atas tempat tidur mulai sembuh, maka dokter akan memerintahkan agar ia didudukkan. Mula-mula duduk dipinggir tempat tidur dengan kaki yang diayun-ayunkan, kemudia di atas kursi dalam ruangan si sakit. Peristiwa ini merupakan hal yang menggembirakan bagi si sakit, sehingga ia akan memberikan bantuaanya. Tetapi si sakit kecewa bila mulai duduk atau berjalan, merasa psing, kaki berat dan lemas. Oleh sebab itu, hal ini perlu dilakukan secara bertahap.
Peralatan
  1. Kursi yang memakai sandaran untuk lengan
  2. Bantal untuk menopang punggungnya
  3. Selimut
  4. Sandal yang ringan
  5. Bila perlu dingklik/kursi pendek dan bel
9. Penyajian Makanan dan Pemberian Obat
a. Penyajian makanan kepada pasien
Makanan berguna untuk memberikan zat-zat makanan yang cukup utnuk memelihara kesehatan, memulihkannya bila sakit, menghasilkan tenaga untuk melaksanakan berbagai kegiatan pertumbuhan dan perkembangan jiwa serta raga.
b. Cara menyajikan makanan
  1. Makanan disajikan di atas sebuah baki yang berisi alas supaya rapi. Di atas baki ada piring, sendok dan garpu, gelas yang berisi air minm dengan tatakan dan tutupnya dan serbet/lap.
  2. Cocokkan makanan sesuai dengan pantangan, rasa disesuaikan denga selera sejauh tidak bertentangan dengan pantangan.
  3. Makanan dijaga agar tidak dihinggapi lalat
  4. Piring jangan di isi penuh, karena dapat mengurangi selera makan si sakit.
  5. Sayuran dan lauk pauk diletakkan terpisah dalam piring kecil diatur secara baik dengan sedikit variasi.
  6. Sedapat mungkin makanan disajikan dalam keadaan hangat.
  7. Waktu makan ditentukan
  8. Agar menarik diberi jambangan kecil dan diberi bunga, kepada anak-anak diberi mainan.
  9. Bila dapat makan sendiri, digunakan meja kecil yang diberi alas
  10. Selesai makan, baki dan isinya diangkat dan dibawah keluar kamar.
c Beberapa jenis makanan khusus
  1. Makanan lunak untuk orang panas atau sakit mulut/tenggorokan
  2. Makanan untuk orang diare
  3. Makanan rendah lemak untuk orang sakit kuning
  4. Makanan rendah garam untuk orang sakit busung/uderma
  5. Makanan tanpa gula untuk orang sakit kencing manis
11. Pemberian Obat Kepada Orang sakit
a. Tujuan
  1. Mempercepat penyembuhan
  2. Mengurangi penderitaan
b. Bentuk obat
  1. Pil
  2. Tablet
  3. Kapsul
  4. Salep
  5. Obat cair
  6. Puyer/serbuk
c. Etiket/label
  • Biasanya diletakkan pada botol, dus, kantong plastik, dsb yang memberi petunjuk tentang pemakain obat
  • Warna etiket :
1) Etiket putih : merupakan obat dalam (untuk diminum)
2) Etiket biru : merupakan obat luar (tidak boleh ditelan)
3) Etiket hitam dan biasanya bergambar tengkorak: merupakan obat berbahaya (obat keras atau racun)
12. Perawatan Bayi
a. Kondisi bayi
  1. Nadi : Kurang lebih 140 denyutan permenit pada waktu lahir
  2. Pernafasan : Kurang lebih 33 – 40 gerakan permenit
  3. B.a.b : 3 – 4 kali dalam waktu 24 jam pada bulan pertama. Warnanya hitam dan agak lengket, akan berubah menjadi lembek kekuning-kuningan bila si bayi mulai menetek
  4. Berat badan : Seorang bayi rata-rata mempunyai berat badan sekitar 3 kg waktu lahir. Dalam waktu beberapa hari ia akan kehilangan berat sampai 300 gram, tapi dalam waktu 2 minggu diharapkan berat badannya akan kembali seperti pada waktu dilahirkan.
  5. Kulit : Pada waktu lahir, biasanya kulit bayi diliputi lemak putih kekuning-kuningan, warna kulitnya merah muda
  6. Penglihatan : Baru mampu pada awal bulan ke 2
  7. Pendengaran : Baru mampu pada awal bulan ke 4
  8. Tidur : Pada bulan pertama bayi tidur 18 – 22 jam sehari, kalau basah atau haus/lapar ia akan bangun dan menangis
b. Makanan
Makanan yang terbaik adalah ASI yang akan membuat bayi tumbuh baik dan sehat. Bila ASI kurang, maka dokter akan menambah dengan susu buatan yang cocok
c. Pemeriksaan
Pada usia 2 minggu bayi sebaiknya dibawa ke dokter atau bidan untuk diperiksa berat badannya dan apakah keadaan pusarnya baik. Juga untuk menerima nasihat mengenai pertumbuhan bayi, kekebalan dan makanan tambahan.
d. Memandikan Bayi
  • Di daerah panas bayi dimandikan pagi dan sore, di daerah pegunungan cukup sekali sehari misalnya sore saja. Sebaiknya waktu mandi ditentukan, agar tidak seorangpun dapat mengganggu pelaksanaan tugas ini.
  • Peralatan
  1. Satu buah handuk
  2. Dua buah waslap
  3. Ember / baskom berisi air hangat kuku
  4. Pakaian untuk ganti
  5. Sabun
  6. Bedak
  7. Alkohol, iodinepovidon dan kasa untuk komprse (untuk bayi yang belum lepas tali pusarnya)

0 komentar:

BACA JUGA :
WELCOME :
Bpk. Jusuf Kalla
Ketua PMI 2009 - 2014
Photobucket